Thursday, May 9, 2019

KONTESTASI POLITIK INDONESIA 2019

Foto by : tribunnews.com
PISAU TAJAM KONTESTASI POLITIK, Tinggal menghitung hari indonesia akan merayakan pesta terbesar yaitu pesta demokrasi, dimana rakyat akan memilih siapa orang yang pantas untuk memimpin Bangsa ini. Melalui prosesi pemilu yang akan di selenggarakan pada 17 april 2019. Harapan bagi masyarakat tentunya dengan adanya dua kandidat yang berkontestasi pada pemilu saat ini yaitu dapat menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat. Berbagai  macam cara dan intrik di lakukan dari masing – masing pendukung keduanya.
Semakin hari suasana perpolitikan semakin memanas baik secara verbal , tulisan maupun melalui media sosial. Media sosial saat ini tidak jarang menunjukan tensi panasnya , perang  media sosial terbungkus rapi untuk menghasut para masyarakat maya. Penggunaan narasi yang kurang tepat semakin membuat kondisi perpolitikan semakin tidak sehat. Perang hastag semakin menjadi – jadi bak perang dunia. Saling menjatuhkan , menghina , mengejek, memfitnah menjadi hal yang lumrah dalam perbincangan media sosial. Seakan dengan sengaja bertujuan untuk menelanjangi di antara pasang paslon dimana petahana di anggap buruk oleh pendukung oposisi dan sebaliknya oposisi di anggap buruk oleh pendukung petahana.
Ujaran kebencian tak jarang menjadi bumbu pelengkap dalam kontestasi politik di negeri ini. Hal yang lumrah seakan selalu terjadi 5 tahunan. Mengangkat kembali isu lama yang telah terkubur seakan hidup kembali bagaikan mayat hidup. Isu – isu KHILAFAH sengaja di benturkan untuk menjatuhkan salah seorang paslon. Bahkan isu PKI pun di benturkan untuk mendeskreditkan salah seorang paslon. Yang salah di anggap benar dan yang benar di cari kesalahannya. Doktin kejam di lakukan, seakan memperkosa kebebasan berfikir seseorang. Prosesi cuci otak tidak lagi secara nyata di lakukan tetapi secara diam – diam masuk melalui media sosial. Mengubah pola pikir , cara pandang dan cara bersikap penggunanya. Itu adalah bahaya laten yang terjadi saat ini di depan mata kita. Pertanyaannya saat ini apakah kita kan terus larut dalam suasana semacam ini? Ataukah kita hanya bersikap apatis menyikapi kejadian ini?, maka andalah yang dapat menjawab problem bangsa kita saat ini.
Fenomena – fenomena semacam ini yang kerap kali terjadi pada saat kontestasi politik 5 tahunan selalu melahirkan dendam politik. Kawan menjadi lawan, keluarga menjadi musuh bahkan orang tua dapat terpecah manjadi tidak bersahabat hanya persoalan politik semacam ini. Sangat miris sekali melihat potret demokrasi kita saat ini. Oknum tidak bertanggung jawab semakin menari – nari menyaksikan kegaduhan politik di negeri ini. Pembunuhan secara sosial kerap terjadi di kehidupan masyarakat. Dimana murid tak lagi di anggap murid lantaran berbeda pandangan politik, dimana sahabat memutuskan ikatan hanya lantaran perbedaan pandangan politik. Dimana hubungan keluarga menjadi retak karna perbedaan pandangan politik.
Marilah, kita masih belum terlambat untuk memperbaiki ini semua sebelum menjadi budaya paten dalam kehidupan berbangsa kita. Pilihlah narasi – narasi yang pantas , narasi – narasi yang berbasiskan data , narasi yang jauh dari hoax , hindarilah narasi yang berpotensi dan menimbulkan perpecahan. Perbedaan pandangan itu biasa tetapi jangan sampai kita sebagai saudara sebangsa terpecah hanya gara – gara persoalan semacam ini. Soal pro dan kontra itu biasa karena itulah Demokrasi, tetapi  Haram menjadi hukum yang melekat ketika tidak sependapat kemudian berujung pada cacian, makian ataupun permusuhan dalam bentuk apapun.
Bagaimanapun juga pemilu semacam ini merupakan momentum yang dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat dalam ikut berkontribusi untuk pembangunan bangsa. Jadi, di samping perbedaan pandangan mengenai siapa yang pantas memipin bangsa ini, kita tetap harus memilih di antara paslon tanpa menghilangkan jati diri bangsa sebagai masyarakat indonesia yang Bhineka tunggal ika, masyarakat yang ramah, masyarakat yang berbudaya, masyarakat yang berjati diri. Kerukunan harus tetap di junjung tinggi oleh setiap masyarakat indonesia. Untuk itu janganlah mempermasalahkan perbedaan dalam bentuk apapun.
Siapapun yang terpilih maka kita wajib untuk menerimanya , wajib menghormatinya dan wajib untuk menjunjung tinggi sportifitas kita , jangan sampai terjadi perpecahan di kalangan masyarakat kita. Tidak perlu pesimis berlebihan, kita hanya perlu yakin bahwa siapapun yang akan menjadi pemimpin adalah putra terbaik bangsa yang memiliki integritas tinggi dan peduli terhadap segala persoalan rakyat. Untuk itu mulai saat ini mari kita ubah pandangan kita, mari bersama – sama menuju Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang telah di sediakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk memilih sesuai kehendak kita dan tetap menjaga kerukunan antar masyarakat meskipun itu berbeda pandangan.  Ingatlah dan teguhkan dalam hati kita bahwa Pemilu adalah demi keberlangsungan bangsa ini.
Untuk itu jangan sekali – kali terbayang dalam pikiran kita untuk tidak memilih alias golput. Kita harus ikut mengawal keberlangsungan pemilu  untuk menentukan arah bangsa sekaligus ikut mengawasi berjalannya prosesi Pemilu serta turut menjaga ketertiban dan kerukunan bangsa.

SUDAHKAH KITA MENGERTI ARTI JIHAD ??



Beberapa waktu terakhir indonesia di gemparkan dengan adanya upaya – upaya dalam penegakan syariat islam dalam bentuk negara yaitu khilafah, meski sebelumnya telah ada upaya serupa di masa lalu namun tidak pernah berhasil menjalankan misinya untuk berdiri di negeri ini. Namun  akhir – akhir belakangan ini isu khilafah mencuat kembali ke permukaan. 
Bagi mereka pancasila bukan merupakan ideologi yang pantas untuk di terima oleh mereka. Menurut mereka penegakan syariat islam dan mendirikan ideologi baru adalah hal yang wajib di lakukan. Bagi mereka ideologi selain khilafah  adalah “thagut” . akhirnya sampai pada puncak klimaksnya yaitu pembubaran ormas HTI yang di anggap ormas yang berorientasi pendirian ideologi ini dan sangat membahayakan keutuhan NKRI.
Upaya seperti ini terjadi lantaran mereka memahami agama hanya sebatas teks saja.  Memahami agama sekedar bungkus saja, tanpa melihat isinya. Seakan melihat seseorang dari sisi pakaiannya saja tanpa melihat perilakunya dan kepribadiannya. Padahal tidak pernah ada perintah untuk mendirikan negara islam. QS Al Baqarah ayat 30 selalu menjadi dasar yang terus mereka bawa dalam aksinya. Sejatinya ayat ini tidak secara eksplisit memerintahkan untuk mendirikan negara. Tetapi sebuah pernyataan pengutusan Nabi Adam di muka bumi.
Kemudian pada tiap sila dalam pancasila pun tidak di temukan sila yang menyimpang dari ajaran islam. Dari sila pertama ketuhan yang maha esa, artinya pancasila menolak seseorang untuk tidak ber agama. Artinya kebebasan beragama sangat di junjung tinggi. Dua kemanusiaan yang adil dan beradap, pancasila menjamin keadilan bagi seluruh rakyat dan ketiga persatuan indonesia , perbedaan suku , ras , agama dan golongan di beri ruang untuk bersatu , bersama – sama  untuk hidup menjalin persaudaraan tanpa mempermasalahkan perbedaan dan keempat permusyawaratan , segala permasalahan apapun di sepakati secara bersama – sama bermusyawarah dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat tanpa terkecuali.
  Maka dari itu pahamilah agama secara utuh dan renungkanlah bagaimana perjuangan para pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekaan , para ulama yang berteteskan darah demi berdirinya bangsa indonesia. Untuk itu saat ini bukan saatnya untuk ribut mempermasalahkan dasar negara dan agama. Karna dasar negara pancasila telah final dan sesuai dengan syariat islam, tidak ada bukti satupun yang menyatakan bahwa pancila keluar dari frame agama islam. Untuk itu mari kita bersama – sama untuk Jihad dalam artian Jihad menjaga keutuhan NKRI dan Pancasila , bukan justru merong – rong dan menjadi sampah negara. Mulailah untuk memahami sesama, mulailah untuk hidup rukun, damai , saling menghargai satu sama lain dan menjunjung tinggi ke bhinekaan karna sesuai dengan misi islam yaitu Rahmatan Lil Alamin  memberi rahmat bagi seluriuh alam semesta.
Mari kita sadari bersama bahwa indonesia dan seluruh yang berada di dalamnya  telah menjadi mutiara di tengah lautan. Artinya menjadi sinar bagi dunia bahwa kita dengan segala perbedaannya bisa bersatu dan hidup secara bersama-sama tanpa mempersoalkan perbedaan yang ada. Itu harapakan pendiri bangsa kita. Para pendiri yang berangkat dari perbedaan latar belakang telah memperjuangkan seluruh tumpah darahnya untuk berdirinya negara ini. Para ulama telah berjuang  hingga tumpah darahnya untuk Bumi pertiwi artinya para ulama telah memperhitungkan secara matang bahwa pancasila adalah ideologi yang final dan di sepakati secara bersama.
Sebagai penerus bangsa, para pelajar marilah Jihad  dengan cara kembangkan keilmuan, belajarlah dengan rajin, karna kalian yang akan menjadi tonggak berdirinya NKRI. Bagi para masyarakat mari bersama – masa kita hayati perjuangan pahlawan terdahulu kita agar kita dapat menghargai hasil perjuangan mereka. Bagi para pemimpin mari kita pimpin Republik ini dengan berlandaskan Pancasila, letakkan pancasila di dalam hati kita masing – masing.