![]() |
| Foto by : tribunnews.com |
PISAU TAJAM KONTESTASI POLITIK, Tinggal menghitung hari indonesia akan merayakan pesta terbesar yaitu pesta demokrasi, dimana rakyat akan memilih siapa orang yang pantas untuk memimpin Bangsa ini. Melalui prosesi pemilu yang akan di selenggarakan pada 17 april 2019. Harapan bagi masyarakat tentunya dengan adanya dua kandidat yang berkontestasi pada pemilu saat ini yaitu dapat menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat. Berbagai macam cara dan intrik di lakukan dari masing – masing pendukung keduanya.
Semakin hari suasana perpolitikan semakin memanas baik secara verbal , tulisan maupun melalui media sosial. Media sosial saat ini tidak jarang menunjukan tensi panasnya , perang media sosial terbungkus rapi untuk menghasut para masyarakat maya. Penggunaan narasi yang kurang tepat semakin membuat kondisi perpolitikan semakin tidak sehat. Perang hastag semakin menjadi – jadi bak perang dunia. Saling menjatuhkan , menghina , mengejek, memfitnah menjadi hal yang lumrah dalam perbincangan media sosial. Seakan dengan sengaja bertujuan untuk menelanjangi di antara pasang paslon dimana petahana di anggap buruk oleh pendukung oposisi dan sebaliknya oposisi di anggap buruk oleh pendukung petahana.
Ujaran kebencian tak jarang menjadi bumbu pelengkap dalam kontestasi politik di negeri ini. Hal yang lumrah seakan selalu terjadi 5 tahunan. Mengangkat kembali isu lama yang telah terkubur seakan hidup kembali bagaikan mayat hidup. Isu – isu KHILAFAH sengaja di benturkan untuk menjatuhkan salah seorang paslon. Bahkan isu PKI pun di benturkan untuk mendeskreditkan salah seorang paslon. Yang salah di anggap benar dan yang benar di cari kesalahannya. Doktin kejam di lakukan, seakan memperkosa kebebasan berfikir seseorang. Prosesi cuci otak tidak lagi secara nyata di lakukan tetapi secara diam – diam masuk melalui media sosial. Mengubah pola pikir , cara pandang dan cara bersikap penggunanya. Itu adalah bahaya laten yang terjadi saat ini di depan mata kita. Pertanyaannya saat ini apakah kita kan terus larut dalam suasana semacam ini? Ataukah kita hanya bersikap apatis menyikapi kejadian ini?, maka andalah yang dapat menjawab problem bangsa kita saat ini.
Fenomena – fenomena semacam ini yang kerap kali terjadi pada saat kontestasi politik 5 tahunan selalu melahirkan dendam politik. Kawan menjadi lawan, keluarga menjadi musuh bahkan orang tua dapat terpecah manjadi tidak bersahabat hanya persoalan politik semacam ini. Sangat miris sekali melihat potret demokrasi kita saat ini. Oknum tidak bertanggung jawab semakin menari – nari menyaksikan kegaduhan politik di negeri ini. Pembunuhan secara sosial kerap terjadi di kehidupan masyarakat. Dimana murid tak lagi di anggap murid lantaran berbeda pandangan politik, dimana sahabat memutuskan ikatan hanya lantaran perbedaan pandangan politik. Dimana hubungan keluarga menjadi retak karna perbedaan pandangan politik.
Marilah, kita masih belum terlambat untuk memperbaiki ini semua sebelum menjadi budaya paten dalam kehidupan berbangsa kita. Pilihlah narasi – narasi yang pantas , narasi – narasi yang berbasiskan data , narasi yang jauh dari hoax , hindarilah narasi yang berpotensi dan menimbulkan perpecahan. Perbedaan pandangan itu biasa tetapi jangan sampai kita sebagai saudara sebangsa terpecah hanya gara – gara persoalan semacam ini. Soal pro dan kontra itu biasa karena itulah Demokrasi, tetapi Haram menjadi hukum yang melekat ketika tidak sependapat kemudian berujung pada cacian, makian ataupun permusuhan dalam bentuk apapun.
Bagaimanapun juga pemilu semacam ini merupakan momentum yang dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat dalam ikut berkontribusi untuk pembangunan bangsa. Jadi, di samping perbedaan pandangan mengenai siapa yang pantas memipin bangsa ini, kita tetap harus memilih di antara paslon tanpa menghilangkan jati diri bangsa sebagai masyarakat indonesia yang Bhineka tunggal ika, masyarakat yang ramah, masyarakat yang berbudaya, masyarakat yang berjati diri. Kerukunan harus tetap di junjung tinggi oleh setiap masyarakat indonesia. Untuk itu janganlah mempermasalahkan perbedaan dalam bentuk apapun.
Siapapun yang terpilih maka kita wajib untuk menerimanya , wajib menghormatinya dan wajib untuk menjunjung tinggi sportifitas kita , jangan sampai terjadi perpecahan di kalangan masyarakat kita. Tidak perlu pesimis berlebihan, kita hanya perlu yakin bahwa siapapun yang akan menjadi pemimpin adalah putra terbaik bangsa yang memiliki integritas tinggi dan peduli terhadap segala persoalan rakyat. Untuk itu mulai saat ini mari kita ubah pandangan kita, mari bersama – sama menuju Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang telah di sediakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk memilih sesuai kehendak kita dan tetap menjaga kerukunan antar masyarakat meskipun itu berbeda pandangan. Ingatlah dan teguhkan dalam hati kita bahwa Pemilu adalah demi keberlangsungan bangsa ini.
Untuk itu jangan sekali – kali terbayang dalam pikiran kita untuk tidak memilih alias golput. Kita harus ikut mengawal keberlangsungan pemilu untuk menentukan arah bangsa sekaligus ikut mengawasi berjalannya prosesi Pemilu serta turut menjaga ketertiban dan kerukunan bangsa.

No comments:
Post a Comment